

Dalam rangka menyongsong HUT Gereja Protestan Maluku ke-90, Panitia Hari Raya Gerejawi Jemaat GPM Tifure tahun 2025, yang dipelopori oleh Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku Ranting Filadelfia dan Makedonia, menyelenggarakan pertandingan sepak bola antar-unit pelayanan. Pertandingan ini mulai digelar sejak 10 Agustus 2025 lalu dan langsung menjadi magnet kebersamaan jemaat.
Sepak bola memang telah menjadi ikon dalam setiap perayaan menyongsong HUT GPM. Istilah “bela negara” bahkan menjadi ungkapan khas di kalangan jemaat ketika tiba waktunya turun ke lapangan. Namun di balik sebuah pertandingan, kita belajar bahwa sepak bola bukan hanya soal menang atau kalah. Ia adalah ruang sosial yang menghadirkan perjumpaan, menumbuhkan solidaritas, dan meneguhkan kebersamaan di tengah masyarakat.
Lapangan sederhana dengan gawang dari bambu, jaring dari bekas jala nelayan, serta bola yang kerap ditambal-sulam, menjelma menjadi simbol kebahagiaan. Seorang ibu bersama anaknya duduk beralaskan rumput di pinggir lapangan, anak-anak berlari memungut bola yang keluar dari garis keluar , sementara para lanjut usia tersenyum mengenang masa muda mereka ketika masih mampu berlari kencang dan menendang bola. Dari wajah-wajah itu kita belajar, bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu lahir dari kemewahan, tetapi dari kebersamaan yang tulus .
Teori sosial Émile Durkheim, ada yang disebut kegembiraan kolektif —kegembiraan bersama yang membuat komunitas larut dalam semangat kolektif yang melampaui diri mereka sendiri. Sepak bola di Tifure menghadirkan momen itu. Sorakan, tawa, dan teriakan berpadu menjadi nyanyian sosial yang memperkuat kohesi, menumbuhkan rasa memiliki, dan meneguhkan identitas jemaat sebagai satu tubuh.
Jauh sebelum pertandingan dimulai, nilai gotong royong sudah terlihat. Para pemuda bekerja keras mempersiapkan lapangan, sementara anak-anak bermain ikut sambil sesekali membantu. Proses itu membentuk solidaritas dan rasa tanggung jawab kolektif. Setelah pertandingan dimulai dan kemudian usai, sportivitas menjadi pelajaran penting: ada nasihat-nasihat untuk menjaga keamanan, ada dorongan untuk menyelesaikan masalah dengan cara demokratis. Semua ini menjadi ruang pendidikan sosial yang alami.
Clifford Geertz mendefinisikan budaya sebagai “jaring makna” yang dimiliki oleh manusia, dan di dalam diri manusia itu sendiri ikatannya. Sepak bola di Tifure adalah bagian dari jaring makna itu. Ia bukan merayakan hari raya dan olah raga, melainkan melakukan praktik budaya yang penuh simbol:
• Simbol kebersamaan , ketika sorakan penonton bukan sekadar suara, tetapi tanda keterlibatan sosial yang mendalam.
• Ritus sosial , ketika pertandingan menjadi bagian dari syukur kolektif atas pemeliharaan Tuhan bagi umat, palayan dan lembaga di Gereja Protestan Maluku.
• Pewarisan nilai , ketika anak-anak belajar sportivitas, kejujuran, dan kebersamaan dari para pemuda (saudara) dan orang tua mereka—sebuah proses enkulturasi yang terus berlangsung dari generasi ke generasi.
Sepak bola di Tifure juga memancarkan dimensi spiritual. Setiap tim tidak hanya beranggotakan warga jemaat, tetapi juga memasukan anggota jemaat GKPMI dan GMIH serta saudara-saudara kita yang beragama muslim dan katolik. Ikatan-ikatan oikumenis dan pluralisme telah menjadi bagian dari akta hidup beriman di Tifure yang saling menerima dan menopang dalam kepelbagaian, dengan semangat dan tujuan yang sama, tentang kebahagian di lapangan. Selain itu Kedatangan setiap tim dan kembilnya mereka di lapangan selalu diisi dengan doa untuk menyerahkan seluruh hasil pertandingan kepada Tuhan. Kekalahan maupun kemenangan diterima dengan terima kasih. Lawan hanya ada di dalam lapangan, tetapi di tepi lapangan dan bangku cadangan tetap ada tawa, canda, dan kegembiraan yang menyatukan. Di sini kita melihat bahwa iman tidak hanya diwujudkan dalam ritual, tetapi juga dalam permainan sederhana yang menumbuhkan persaudaraan.
Akhirnya, sepak bola di Tifure adalah perayaan sosial, budaya, dan spiritual . Ia menyatukan masyarakat dalam energi kolektif, menjaga jaring makna budaya, serta menciptakan ruang publik alami yang memelihara solidaritas. Di dalamnya terkandung nilai iman: syukur, persaudaraan, dan kebersamaan.
Dalam setiap seruan gol, kita diajak berpikir bahwa hidup ini memang patut dirayakan. Bukan dengan kemewahan, melainkan dengan kebersamaan yang tulus. Sepak bola di Tifure menjadi cermin kehidupan: penuh perjuangan, kaya makna, dan selalu lebih indah ketika dijalani bersama.
Kalau kemudian lapangan-lapangan bola di kampung dapat dibangun dengan kebersamaan, Kenapa di “kota” menjadi perebutan lahan?. Lapangan sepak bola tidak hanya diisi oleh sebelas pemain di lapangan, rumput hijau, lampu-lampu penerang, tetapi pemain ke dua belas dengan ribuan mata yang melihat dan menjadi penyemangat dalam kebahagiaan bersama di stadion-stadion.
Penulis : Pdt. Fileks Talakua
Editor : Admin







